Oleh : Ahmad Zaqi Firdausi

Apakah Anda pernah membaca sebuah hadis yang berbunyi ada 7 golongan yang akan Alloh berikan peneduh di padang mahsyar di saat seluruh manusia berkeringat karena terlampau dekatnya matahari dengan kita? Saya pernah dan sering mendengar banyak mubalig menyampaikannya. Sebagian digambarkan akan berkeringat hingga mata kakinya, sebagian hingga pusarnya, sebagian lagi bahkan hingga meneguk keringatnya sendiri. Sungguh mengerikan keadaan manusia di saat itu.

Ditengah kengerian masa depan yang akan saya lalui itu saya perhatikan di dalam hadis itu salah satu yang mendapatkan naungan adalah pemimpin yang adil. Lalu saya bercermin pada diri saya sendiri, sebagai suami dan ayah apakah saya sudah layak menjadi salah satu yang mendapatkan naungan yang teduh itu? Rasanya masih jauh jaraknya.

Saya, sebagai suami dan ayah, tentu merasa belum merasa menjadi pemimpin yang adil walaupun rakyat saya baru 2 jiwa saja yaitu satu istri dan satu anak saya (bukan sinyal mau nambah istri J).

Namun demikian, sebagai seorang yang mengaku muslim saya berjiwa optimis bahwa saya bisa menjadi pemimpin yang adil I am born to be a leader and a winner for my own life.

Saya percaya bahwa saya akan sukses membawa rakyat saya untuk mendapatkan kehormatan tertinggi di dunia dan akhirat. Sejatinya menurut hadis tadi saya yakin dengan rumus MENJADI AYAH = mendapatkan kemuliaan di hari akhir. Aamiin.

Namun pada kenyatannya,  di dunia ini kehormatan untuk menjadi pemimpin yang adil melalui peran ayah saat ini semakin dikerdilkan dengan imej bahwa ayah yang banyak berperan di keluarga adalah sosok yang tidak gentle, macho dan takut istri, padahal peran ayah yang banyak terlibat di dalam pendidikan keluarga adalah peran yang paling keren dan gentle yang sudah tersirat di dalam Al-Quran. Ibrahim, Luqmanul Hakim, Imron dan Muhammad adalah lelaki-lelaki yang menjadikan keluarga sebagai rakyat pertama yang mereka selamatkan dari bengisnya  api neraka.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa fatherhood atau seluk beluk tentang keayahan itu tidak dapat diajarkan seperti kita belajar matematika atau ilmu eksplisit lainnya. Ia adalah kehebatan yang ditularkan yang melalui proses dialog, pengamatan dan keteladanan yang panjang yang memakan sepanjang usia untuk meraihnya. Ia adalah sebuah tacit knowledge yang tak banyak ditularkan oleh Ayah-Ayah yang bahkan hebat di dunia karirnya.

Sebagai anak kelima dari sepuluh bersaudara dengan ayah yang hanya lulusan SMK dan ibu lulusan SMP, dengan mindset masyarakat kita yang masih mendewakan gelar, saya tak henti-hentinya bersyukur bahwa saya dilahirkan di dalam keluarga yang riil, bukan keluarga yang sempurna dan berada, namun keluarga yang apa adanya. Ayah saya seorang pekerja kasar yang tak pernah berhenti meyakini bahwa “Sebaik-baik laki-laki adalah yang makan dari hasil keringatnya sendiri” dan seorang yang gigih berkeyakinan bahwa ada dosa yang tidak akan gugur kecuali dengan membanjiri tubuhnya dengan keringat dalam rangka mencari dan membawa pulang hasilnya untuk 11 jiwa yang telah rindu menunggunya di rumah.

Ayah, seorang yang mungkin tidak sempat menghabiskan banyak waktu saat saya menginjak remaja karena hanya mampu pulang ke rumah setiap 2 minggu sekali, namun penuh teladan dalam menjadi kepala keluarga memberikan dan menularkan kebijakan, yang tak pernah ketinggalan sholat shubuh berjamaah di masjid seberapapun sibuk dan lelahnya beliau, yang mengetahui seluk-beluk bagaimana mengurus rumah tangga dari atap bocor hingga menyembelih binatang kurban dan mengurus mayit. Dari mengaduk semen hingga mencabuti bulu ayam yang hendak dimasak jadi opor.

Ayah di tengah segala kekurangannya tidak banyak bicara, agak tempramen dan grasa- grusunya adalah sesosok pria teladan yang mulai hilang ditelan masa. Ayah yang selalu memotivasi anak-anaknya untuk belajar dan karenanya beliau rela bekerja hingga usia senja demi semua anaknya dapat berkuliah, qodarullah hampir semua anggota keluarga merasakan pendidikan tinggi, walaupun hal itu bukan satu-satunya barometer keberhasilan di dalam mendidik anak. Semangat untuk memfasilitasi anak supaya dapat belajar dengan optimal itulah yang selalu saya kagumi. Ayah yang mengorbankan kuliah S1 nya demi mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana.

Ayah yang saya panggil “apa” adalah bukti dan contoh hidup bahwa kebijakan tidak diraih dengan berpangku tangan. Keinginan mesti diiringi dengan langkah yang tegap mantap dan optimis. Sosok yang menginnspirasi bagaimana menciptakan peradaban dari  bangunan pilar terdekat.

Ayah pengirim sms dan pesan terbanyak dibanding teman atau sahabat lain yang kadang-kadang hanya bertanya “nuju naon?” (sedang apa?) bahkan saat kita lupa padanya, bahkan saat kita tidak tahu bahwa dia sedang berbaring sakit di perantauannya.

Saat inilah azam telah terbalut, peran telah bergilir. Saatnyalah aku mengambil SK serupa dari yang maha memberi kuasa. SK yang telah diberikan pada “apa” sebagai ayah yang diberi kewenangan untuk memeluk semua anggota keluarganya menjadi penghuni taman syurga. SK yang dengan yakin aku pegang ditengah banyaknya generasi laki-laki yang manja atau yang bahkan tidak ingin menjadi laki-laki. Di tengah banyaknya orang  tidak ingin mengambil kepercayaan Alloh untuk menjadi pemimpin yang mendapatkan naungan di hari tak ada satupun naungan kecuali dari-Nya. Bismillah, ayah terima kasih aku ucapkan. Doakan aku agar menjadi pemimpin yang lebih baik darimu agar aku pun kelak dapat membanggakanmu di hari tidak ada naungan bagi kita kecuali sama-sama kita mampu menjadi pemimpin yang adil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s